Bottle’s Neck Sadness

img: freeimages.com
img: freeimages.com

River, kali ini mari bicara tentang kulminasi. Dan dengan itu aku lanjutkan cerita ini kepadamu. Pada suatu ketika, ketika dengan sadar aku tahu bahwa kulminasi itu benar-benar ada.

Kening terasa dingin. Dingin sekali.

Aku menciumnya setelah membantu membukakan kain penutup wajahnya. Aku seperti melihat Bapak tersenyum. Senyum yang akrab, yang memperlihatkan sedikit giginya. Giginya yang tak lagi putih karena bertahun-tahun digempur asap Dunhill-Bentoel-Gudang Garam-Djarum-lalu balik lagi ke Gudang Garam.

Tentang siklus rokok itu, aku hanya mengingat tiga merk terakhir itu. Kelas empat SD, aku mulai belajar merokok dan sering mencuri-curi rokok Gudang Garamnya. Sembunyi-sembunyi, tentu saja. Hanya ingin tahu seperti apa rasanya. Aku baru tahu Bapak juga pernah menghisap Dunhill dan Bentoel saat membongkar loteng dan menemukan sebuah kardus besar berisi ratusan kotak rokok dua merk itu. Hasil kejayaannya di masa-masa awal, rupanya. Bapak baru berhenti merokok setelah dokter memvonisnya kena diabetes, sekitar enam tahun sebelum wafatnya.

Di samping jazad bapak, Ibu bergeming duduk membaca Al-Quran. Matanya tak lagi basah. Tangisnya sudah tumpah seharian hingga tak bersisa lagi. Tiga orang adikku mondar-mandir di luar kamar. Sudah bisa tertawa. Abangku entah kemana. Mungkin menidurkan anaknya yang masih bayi.

Di depan jazad Bapak, aku tidak menangis, memenuhi salah satu keinginan semasa hidupnya. Bapak tidak suka anak-anaknya cengeng. Lima anaknya semuanya laki-laki. Di mata Bapak, laki-laki cengeng hanya akan jadi sayur. Dan aku memang tidak menangis. Bukan tidak mau, tapi karena memang tidak bisa. Bottle’s neck sadness! Itulah saat rupa-rupa berlomba ingin keluar hingga mentok berhenti di satu titik. Tidak bisa keluar sama sekali.

Aku mendengar suara adik-adikku di luar membicarakan entah apa. Sekali lagi aku mencium kening Bapak sebelum berdiri. Ibu berhenti sejenak dari kekhusukannya membaca Al-Quran dan merapikan kain penutup tubuh Bapak. Kusentuh kaki Bapak dan merasakan betapa kurusnya bagian tubuhnya itu.

Aku lalu menghampiri Fuad, adikku yang nomer empat. Ini adikku yang paling aneh. Dia mudah sekali tertawa pada setiap lelucon yang aku ceritakan, lelucon yang paling tidak lucu sekalipun. Selera humornya mungkin menurun dari Bapak.

Sejak bekerja di Jakarta, aku memang jarang bertemu lagi dengan adik-adikku yang masih menyelesaikan kuliahnya di Makassar. Hanya sesekali aku pulang jika ada cuti. Dan setiap berkesempatan pulang kampung, aku hampir selalu dijadikan badut oleh mereka, terutama oleh Fuad. Uce dan Ari si bungsu, cenderung agak serius. Apalagi Uce yang sejak beberapa tahun lalu bergabung dengan sebuah gerakan tarbiyah. Tanpa bermaksud mengolok-olok, kami sering memanggilnya Ustadz. Di antara kami semua, memang dia yang paling ’ustadz’, yang paling bagus bacaan shalatnya.

”Ciee, sekarang kamu anak yatim dong!” kataku kepada Fuad. Fuad berusaha menahan ketawa, tidak menyangka aku akan menyorakinya dengan kalimat itu. Seolah-olah menjadi anak yatim adalah kebanggaan. Aku mendengar Ibu berdehem di dalam kamar, memperingatkan kami. Fuad masih menahan ketawa. Mungkin begitulah caranya merayakan kesedihan.

Sejak tengah malam hingga menjelang subuh, aku tak bisa lagi tertidur. Bodoh saja kalau kau bisa tertidur dalam keadaan seperti ini.

Sebelum adzan subuh berkumandang, aku menghampiri kamar tempat bapak disemayamkan. Ditemani Uce, Ibu tertidur di lantai mengenakan mukena, seperti kelelahan setelah sebuah ritual doa yang panjang. Bapak masih terbaring, tidak bangun-bangun.

Mengamati Bapak yang tidak bergerak, aku duduk bersandar di tembok dekat pintu masuk. Dan untuk pertama kalinya sejak aku tiba tengah malam tadi, aku tak bisa lagi menahan sesuatu yang memaksa keluar dari sudut mataku. Aku menangis sejadi-jadinya. Terisak berusaha tak bersuara.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan mengelus rambutku. Tangan ibuku. Rupanya dia terbangun oleh suara isakku yang cukup ribut di pagi yang hening itu. Ibu membantuku berdiri dan menyuruhku mengambil air wudhu. Aku menurutinya, dan menengok sebentar ke arah tempat tidur bapak. Dia masih tak bergerak.
Bapak sudah pergi. Benar-benar pergi.

Menangis. Sebagai lelaki, sedapat mungkin itulah hal terakhir yang boleh kau lakukan. Warisan pengalaman mengajarkan kita –yang lebih mirip kutukan– bahwa laki-laki tak boleh menangis. Seolah-olah aib bagi lelaki untuk menumpahkan airmatanya.
Padahal tidak ada larangan bagi laki-laki untuk menangis. Shakh Rukh Khan menangis. Temanku yang gondrong metal yang tak boleh aku sebutkan namanya, juga menangis ketika menonton Kuch Kuch Hota Hai. Umar bin Khattab menangis. Aku bahkan membayangkan bagaimana Rasulullah juga menitikkan air mata ketika menjelang wafatnya beliau teringat pada umat yang akan ditinggalkannya. “Ummati.. ummati.. ummati…,” begitu Beliau merintih.

Dalam salah satu hadits juga ada disebutkan, surga hanya akan tampak bagi seseorang yang pernah menenggelamkan bulu matanya dalam air mata penyesalan. Jangan berharap surga jika engkau tak pernah menangis karena menyesali dosa-dosamu.

Betapapun aku selalu berusaha untuk terlihat tangguh, sebenarnya boleh kau bilang aku cengeng, Nak. Aku juga sering menitikkan air mata karena sesuatu, yang mungkin bagi sebagian orang terlihat sepele.

Suatu ketika, seorang teman yang melihat hidupku perlu diluruskan, mengajakku ke Mesjid Al Hikmah. Dan di sana aku tiba-tiba menangis karena mendengar murottal.

Pernah juga suatu kali aku meneteskan air mata di kantor polisi karena mendengar seorang tersangka teroris ditembak dalam tahanan. Aku menangis karena membayangkan dia sebagai seorang yang ditunggu pulang oleh anak-anaknya. Tapi kepada temanku aku beralasan itu karena pengaruh serbuk gas air mata yang digelar polisi sebagai barang bukti penggerebekan. Gengsi rasanya kalau ketahuan menangis.

Nak, karena kau masih kecil, bolehlah kamu menangis meskipun kamu laki-laki. Menangislah kalau kamu butuh kami gendong, menangislah kalau kamu mau ganti popok, menangislah kalau kamu ingin menyusu. Menangislah supaya jantungmu sehat dan kuat.
Tapi, Nak, kalau kamu sudah besar nanti, jangan kau hambur airmatamu. Aku meneruskan amanat orangtuaku kepadamu. Jangan menangis, kecuali bila kesedihanmu itu ada hubungannya dengan tempat sujudmu.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim