Bertamu

Ilustrasi. Img:freeimages.com
Ilustrasi. Img:freeimages.com

Malam itu, semua berkumpul di rumah kami di kampung, membaca Yasin dan mendokan Bapak yang wafat tepat 5 tahun lalu. Ibu juga berencana mengadakan buka puasa bersama besoknya, mengundang kerabat dan teman-teman kami. Aku tidak hadir. Dari jauh saja aku bisa mendoakan. Toh dari sini ke Bapak mungkin sama saja jaraknya dengan dari sana ke Bapak.

Aku sedang berada di ruang tengah rumah orang lain. Di pelosok Ciseeng, Bogor.

Pasti ada sebabnya, sehingga dikirim-Nya aku bertamu ke rumah itu. Rumah berdinding anyaman bambu dengan bola lampu yang putus. Tak ada kursi.

Aku melihat seorang bapak pulang. Istrinya menyambutnya. Entah di mana dia berbuka tadi. Dia bekerja sebagai buruh di sebuah proyek pembangunan di Kelapa Gading. Dia terpaksa pulang, menempuh sekitar 3-4 jam perjalanan karena istrinya mengabari kami datang berkunjung.

Kami sedang membuat film dokumenter tentang anaknya.

Anaknya perempuan, pintar, ranking 1 di kelas 3 SMP. Hampir setiap hari dia ke sekolah dengan berjalan kaki, menempuh jalan tanah berdebu sejauh 5 kilometer. Karena truk sayur yang bisa ditumpangi tidak setiap hari datang. Dan kalaupun ada angkutan umum yang nyasar masuk, uang untuk membayarnya tak selalu ada.

Sang ibu bercerita, putri bungsunya itu seolah prajurit perempuan. Kuat seperti baja. Cita-citanya hanya satu: ingin bisa melanjutkan ke SMU.

Tak berani aku menyebut mereka sebagai orang miskin, karena selalu ada timun suri dan sirup buah yang bisa mereka suguhkan kepada kami untuk berbuka puasa. Mereka orang kaya, setidaknya di hati.

===

Salah satu kebiasaan Bapakku yang masih aku ingat, adalah kesukaannya berkunjung ke rumah kerabat dan teman-temannya. Kami yang masih kecil sering diajaknya serta. kadang-kadang aku bisa menangkap apa yang mereka obrolkan. Sering dia menceritakan kebandelan-kebandelan kami. Tentu saja kebandelan yang lucu-lucu. Bukan semisal nyolong mangga.

Tak lama setelah Bapak meninggal, Uce’, adikku yang nomer tiga mengingatkan tentang hal yang harus kami lanjutkan. Uce’ bilang kami harus menyambung apa yang sudah Bapak lakukan. Diajaknya aku mengunjungi teman-teman Bapak untuk sekadar menyambung silaturahmi. Tapi tidak selalu bisa aku lakukan.

Terpisah jauh begini membuat langkahku terasa pendek dalam hal itu.

====

Lalu pada suatu malam yang lain, di jalan pulang dari Ciseeng itu, seorang berbicara tentang Ramadhan di radio.
Katanya, Ramadhan adalah saat untuk melihat sekeliling. Saat untuk mengunjungi kerabat dan teman yang hidup sederhana, terhimpit, atau terbebani. Saat untuk membawakan mereka buah tangan, pertanyaan apa kabar, tepukan di punggung, atau sekadar senyum bila hanya itu yang kita punya.

Sudah banyak orang yang bicara tentang kesucian, pahala, atau FPI. Tapi masihkah ada yang mau mengajak kita bicara tentang hal-hal mungil. Ramadhan adalah saat untuk menanyakan kembali kabar guru-guru kita. Mungkin mereka punya cerita tentang betapa nakalnya kita dulu.

====

Mungkin inilah sebabnya aku dikirim-Nya bertamu ke rumah itu.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim