Foto: Kalegin Michail/unsplash.com


Sudah sejak lama dipercaya bermanfaat bagi kesehatan. bahkan dianjurkan untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga mood. Di sejumlah negara Latin, ada tradisi “”, yaitu tidur siang singkat –biasanya setelah makan siang. Di , beberapa wilayah di bagian Timur juga menerapkan kebiasaan ini. Di sebuah kota di Sulawesi, kegiatan ekonomi akan “berhenti” saat waktu tidur siang. Toko-toko dan pasar tutup sejenak untuk memberi kesempatan kepada orang-orang untuk tidur siang.

Namun, berapa lama sesungguhnya durasi tidur siang yang pas agar betul-betul bermanfaat bagi tubuh?
Profesor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire, Inggris, punya hitung-hitungannya. Hitungan itu berdasarkan riset yang ia lakukan pada Maret 2017 lalu. Penelitian yang diadakan untuk Edinburgh International Science Festival tersebut melibatkan lebih dari 1000 orang.

Dari hasil survey responden, 66 persen pelaku tidur siang singkat (tidak lebih dari setengah jam) melaporkan perasaan bahagia dibandingkan dengan 56 persen pelaku tidur siang lama dan 60 persen peserta yang tidak tidur siang.

Pelaku tidur siang singkat memiliki skor kebahagiaan rata-rata 3,67 pada skala 5 poin. Sementara yang bukan pelaku tidur siang ada di skala 3,52 dan pelaku tidur siang panjang berskala 3,44.

Profesor Richard Wiseman juga menekankan pentingnya untuk memberi kesempatan keapda para pekerja atau karyawan untuk tidur siang.
“Hasil riset menunjukkan tidur siang singkat akan menggenjot performa. Banyak perusahaan sukses seperti Ben & Jerry’s dan Google, bahkan menyediakan ruang khusus bagi pekerja yang ingin tidur siang,” kata Richard sebagaimana dikutip dari Huffington Post UK.

Secara singkat, penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan: tidur siang dengan durasi kurang dari 30 menit membantu Anda untuk tetap fokus, produktif, dan kreatif. Penelitian ini juga mengungkapkan ada hubungan antara tidur siang singkat dengan kebahagiaan. Sebaliknya, tidur siang yang lama bisa memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti kelelahan atau sleep inertia. Ini juga yang menjadi sebab kenapa kebanyakan orang yang tidur siang berlebih, sering kali merasa “lemot” atau “bego” saat bangun. 

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2017/05/kalegin-michail-179870-1024x683.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2017/05/kalegin-michail-179870-150x150.jpgEditor TheRiverPostLife of Ussiesta,tidur siangSudah sejak lama tidur siang dipercaya bermanfaat bagi kesehatan. Tidur siang bahkan dianjurkan untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga mood. Di sejumlah negara Latin, ada tradisi 'siesta', yaitu tidur siang singkat --biasanya setelah makan siang. Di Indonesia, beberapa wilayah di bagian Timur juga menerapkan kebiasaan ini. Di sebuah kota di...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k