Ilustrasi. Img:freeimages.com
Ilustrasi. Img:freeimages.com

Nak, selalu ada masa-masa sulit yang harus dilewati dalam hidup. Masa-masa sulit itu sering kita beri nama macam-macam. Kadang kita sebut dia cobaan, ujian, musibah, atau azab. Tergantung sejauh mana kita melihat dan menyetujuinya. Pernah suatu kali aku hampir meninggalkan sebuah shalat Jumat hanya karena khotibnya bilang tsunami di Aceh dan gempa di Padang itu adalah azab, hukuman. Saya tidak sepakat, dan jika bukan karena terpaksa, saya berniat mencari masjid lain yang khotbahnya tidak menggeneralisir seenaknya seperti itu.

Maafkan saya, ya Allah. Mungkin itu benar. Tapi siapalah kita ini, merasa bisa menentukan dan menilai penderitaan orang lain?

Aku ingat seorang kecil yang terhimpit di tengah antrian makanan di Aceh, setelah tanah mereka rata oleh tsunami 26 Desember 2004. Aku ingat ibu kawanku yang tinggal di tenda di Padang Sago setelah gempa 30 September 2009. Demi Allah, tak sedikitpun aku berani bilang mereka menanggung azab. Ya Allah, dengan segala kebodohan yang aku miliki, ijinkan aku untuk tak sepakat dengan dia yang berjubah wangi dan berdiri di mimbar itu.

Ada seorang da’i terkenal yang pernah bilang, “Ini ujian bagi saya”. Yang dia maksud dengan ujian adalah kondisi ketika dia harus beristri dua dan disorot publik dan dihujat jemaahnya yang tidak setuju. Ada juga seorang bintang sinetron yang berujar serupa. Tapi yang dia maksud dengan ujian adalah wajahnya yang tampan yang membuatnya dikejar-kejar cewek-cewek ABG dan alay-alay.

Di lain kesempatan, ada seorang haji kaya raya yang dengan entengnya bilang, “Kekayaan yang saya miliki ini adalah ujian dari Allah”. Temanku yang pengamen menimpali, “Kalau ujiannya kaya raya, semua orang juga pengen diuji, Pak Haji…”

Nak, aku sama sekali tidak berpretensi untuk menjelaskan padamu apa itu cobaan, ujian, musibah, atau azab. Aku juga bukan semacam moderator diskusi yang sering merasa sok tahu untuk menyimpulkan apa-apa yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Kawanku yang suka menyederhanakan masalah itu bilang, “Apapun jenisnya, mari kita sepakat menyebutnya masa sulit. Mau ujian kek, cobaan kek, azab kek, sebut saja tough days!”

Sebenarnya, Nak, aku menulis ini karena aku merasa juga sedang mengalami masa-masa sulit. Di luar kondisi bahwa kita harus selalu bersyukur pada apa yang terjadi, kadang kita memang tidak bisa selalu berpura-pura menjadi Rambo. Kadang-kadang kita ini Rinto, ST12, suka mewek…

Aku pun dengan sangat tak tahu diri menyebut situasi yang sedang aku alami ini sebagai masa-masa sulit. Padahal ini tak ada sepersejutanya dari penderitaan yang dirasakan oleh, misalnya, ibu kawanku di Padang Sago itu.

Untuk menulis ini pun, aku harus mengesampingkan nasehat Buya Hamka yang pernah bilang, berbahagialah dengan apa yang kau punyai, dan yang tidak kau punyai.

Mungkin itulah masalahnya, Nak. Jakarta tak pernah membiarkanmu untuk bahagia dengan sesuatu yang tidak kau punyai. Di Jakarta, kita dibuat tak pernah puas dengan pemenuhan kebutuhan dasar saja. Kota ini selalu membuat kita ingin lebih. Entah kenapa, aku merasa orang-orang hanya melihat kita dari apa yang kita punya. Bukan dari apa yang tidak kita punyai. Tak pernah aku mendengar ada yang bilang, “Gila! Lo keren banget ya.. gak punya Blackberry!”.

Nak, insya Allah, sekitar sebulan lagi kamu lahir. Kamu tahu, di usia kehamilan ibumu yang memasuki delapan bulan ini, aku sering dihinggapi rasa bersalah. Jangan kau ragukan, aku selalu ingin yang terbaik untukmu dan ibumu. Aku sudah berusaha cari duit mati-matian, tapi entah kenapa yang terjadi adalah aku selalu merasa usahaku itu tidak cukup keras. Tidak cukup kuat untuk menembus batu Chin Mi. Ini masalahku, Nak. Seorang dosen yang menurutku lebih cocok jadi motivator pernah memberi kuliah, “Bagilah semangatmu menjadi dua, masing-masing 50 persen. Setelah itu, dua semangat 50 persen itu kamu jadikan masing-masing 100 persen. Sekarang kamu punya 200 persen semangat!” Begitu katanya, Nak. Matematika apa itu! Hehehe..

Nak, aku selalu berharap kelak kamu akan mendapatkan guru agama yang baik. Guru agama yang selalu mengingatkan dan meyakinkanmu bahwa Allah tidak tidur. Gusti Allah ora sare, kata teman-teman kami yang orang Jawa.

Oya, Nak, untuk sementara, aku tak membiarkan ibumu naik angkot. Jadi kemana-mana kami membawamu naik taksi. Bukannya mau riya, tapi kami kalau naik taksi kami suka kasih lebihan Rp5000 sampai Rp10000 ke sopir taksinya. Dan kemarin itu, aku dapat jawaban lagi kenapa sampai sekarang belum bisa membeli mobil untuk ibumu.

Ada yang datang di mimpiku, Nak, dan dia bilang kami masih harus jadi perantara rezeki sopir taksi itu, melalui lebihan yang sering kami kasih itu. Rezeki mereka masih ada di saluran kami.

Jadi, Nak. Allah itu benar-benar tidak tidur. Allah menjawab semua doa. Hanya saja kadang-kadang jawabannya adalah Belum dan Tidak.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2010/01/taksi_bbg.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2010/01/taksi_bbg-150x150.jpgFauzan MukrimRiverFloAnak,,Nak, selalu ada masa-masa sulit yang harus dilewati dalam hidup. Masa-masa sulit itu sering kita beri nama macam-macam. Kadang kita sebut dia cobaan, ujian, musibah, atau azab. Tergantung sejauh mana kita melihat dan menyetujuinya. Pernah suatu kali aku hampir meninggalkan sebuah shalat Jumat hanya karena khotibnya bilang tsunami di...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k