img:sobali.blogspot.com
img:sobali.blogspot.com

River, sungguh aku berbohong kalau bilang tidak dumba-dumba gleter (KBBI: kira-kira semacam deg-degan yang bercampur rasa senang, takut, dan mau pipis) sekarang. Ini gejolak hati yang akan kau rasakan bila suatu hari nanti berurusan dengan . Iya, Nak. Kita sedang menanti keputusan dari bank apakah akan menyetujui atau menolak kredit pemilikan yang kami ajukan.

Alhamdulillah, setelah perjuangan berat untuk melunasi uang muka, akhirnya tibalah kami di fase ini. Memang baru awal perjuangan. Andaikata diukur pakai hitungan hari, usaha kami ini baru menginjak selepas subuh. Masih jauh ke sananya.

Yang penting ada progress. Beberapa hari ini, ramai sekali hp-ku berdering. Pegawai-pegawai bank yang mengaku mengurusi pengajuan kredit kami, bergantian memperkenalkan diri. Bagusnya, Nak, developer perumahan yang kita incar ini bekerja sama dengan banyak bank. Jadi kami hanya menyetor dokumen-dokumen yang dibutuhkan kepada Mbak Tesa, lalu tinggal menunggu telepon untuk ditanya-tanyai.

Telepon pertama datang dari Mba Lily, mengaku dari bank warna ijo. Mba Lily suaranya bagus, kira-kira seperti Dian Piesesha. Aku taksir umurnya mungkin sepantaran aku, makanya aku panggil Mba. Mba Lily tanya apakah gajiku memang sebesar yang tercantum di surat keterangan dari kantor. Tentu saja aku bilang iya, sembari menambahkan bahwa itu gaji bruto. Bisa lebih bisa kurang tergantung musim. Akhirnya Mba Lily minta dikirimkan bukti potongan pajak Pph 21. Aku kirimkan. Ternyata pertanyaan inilah yang paling sering diajukan oleh bank-bank berikutnya.

Telepon selanjutnya dari Mas Danang, analis bank plat merah berwarna biru kekuning-kuningan. Nanya gaji juga dan sedikit verifikasi data. Singkat. Tapi rupanya belum selesai. Datang lagi telepon dari bank yang sama tapi orangnya beda, katanya mau survey rumah yang kami tempati sekarang. Tadi siang Mas siapa itu namanya datang, tapi tidak bisa kami temui. Aku sudah terlanjur ke kantor, dan kamu dan ibumu sudah berangkat ke Bandung. Akhirnya Mas ini cuma ketemu Bu Nining, pemilik kontrakan kita. Kata Bu Nining, Mas itu cuma nanya-nanya dan foto-foto. Mungkin dia nge-fans sama Bu Nining sampai minta foto-foto segala.

Hampir bersamaan dengan Mas itu datang ke rumah, ada telepon dari bank ini lagi. Namanya Mba Sari. Mba Sari menanyakan apakah betul aku punya penghasilan lain selain gaji. Tentu dia melihat surat kontrak penerbitan buku dari tiga penerbit berbeda yang aku lampirkan. Dia nanya berapa biasanya royalti yang bisa aku dapat. Aku bilang tergantung. Kalau bukuku meledak semacam buku Andrea Hirata atau Trinity, tentu saja aku tak akan perlu berurusan dengan KPR macam ini. Tapi karena aku ini hanya penulis abal-abal, ya pahit-pahitnya cuma bisa buat beli Fanta.
Oya, Mba Sari ini juga nanya apakah aku punya utang dan cicilan lain yang alhamdulillah aku bilang tidak. Baru mau. Telepon ditutup.

Telepon selanjutnya dari bank yang namanya mirip merk cat tembok. Mas-mas juga yang nelpon. Cuma nanya-nanya biasa dan minta dikirimkan fotocopy dokumen tambahan.

Nah, telepon terakhir ini yang agak panjang pertanyaannya. Sama kayak Mba Sari, Mas ini nanya apakah aku punya utang cicilan lain. Mas ini juga nanya apakah boleh dia menelpon mertuaku untuk verifikasi. Aku bilang silakan, karena niscaya ia akan memperoleh fakta bahwa aku ini adalah tipe menantu teladan dan idaman.

Demikianlah sekilas cerita mengenai telepon-telepon yang aku terima. Menurutku hampir semuanya puas dengan jawaban yang aku berikan, seolah-olah aku ini telah belajar lama untuk itu.

Iya, mudah-mudahan setidaknya salah satu dari mereka senang dan puas sehingga mengabulkan permohonan kredit kita.

Dan sekarang, tinggal memikirkan bagaimana mencari dana segar untuk membayar biaya KPR dan AJB yang besarnya hampir sama kayak DP. Begitulah, Nak. Belum reda ngos-ngosan ini tapi sudah harus dibawa lari lagi. Agak bingung juga, sehingga tadi pagi-pagi aku bertanya di Facebook, siapakah di antara kawan-kawanku yang punya kenalan orang IMF, karena aku ingin mengajukan pinjaman lunak. IMF itu, Nak, adalah lembaga keuangan internasional yang pernah kasih utang ke negara kita.

Tapi meskipun di depan tadi aku bilang dumba-dumba gleter, namun sesungguhnya aku menikmati proses ini. Aku percaya bahwa kita pasti akan dimudahkan oleh Allah. Kesulitan-kesulitan yang muncul kita hadapi dengan sabar saja. Memang beberapa kali, kita terpaksa minta pelampung, tapi aku dan ibumu masih terus berjuang, Nak. Semesta maha luas ini adalah milik-Nya semua, dan kita cuma bermimpi untuk “meminjam” 90 meter persegi dari tanah-Nya. Untuk tempat berpijak, tempat berkembang, beribadah dengan tenang, belajar dengan baik.

Sekarang ini kita pun harus tetap bersyukur karena masih punya tempat berteduh biar kata ngontrak. Di Jakarta ini, Nak, banyak hal ajaib yang membuat kita harus banyak-banyak bersyukur. Asal tidak terlalu sering baca majalah Forbes atau Indonesia Tatler, insya Alah suasana hati kita akan baik-baik saja. Tinggal mengatur cara pandang.

Kira-kira menjelang bulan puasa kemarin, Nak, petugas Dinas Sosial Jakarta menggelar razia gelandangan dan pengemis. Tengah malam jalan-jalan Jakarta mereka susuri mencari orang-orang yang tidur di trotoar dan emperan. Banyak gelandangan dan anak jalanan yang diangkut.

Tapi ada satu kejadian yang sulit aku lupakan. Aku tak ingat di mana tepatnya, tapi kira-kira seputar Jakarta Selatan. Sepasang suami istri yang tertidur di emperan toko terbangun kaget ketika tahu-tahu cahaya senter menyorot wajah mereka. Di antara mereka sebuah payung kecil warna merah muda dibentangkan. Di bawah payung itu, seorang bayi tampak tertidur pulas dalam kain bedong yang melilitnya.

Ibu itu tertatih-tatih ketika petugas memintanya berdiri. Seorang petugas perempuan membantu menggendong bayinya. Sementara suaminya digandeng petugas lain.

Sebelum naik ke mobil, dia sempat menjawab pertanyaan yang diajukan petugas.
“Baru lahir tadi siang, Pak,” jawabnya saat ditanya berapa umur bayinya.
“Dari sore jalan kaki, Pak, kemaleman sampai di sini…”
Dia menyebut nama sebuah tempat bersalin gratis di wilayah Tanah Abang. Tapi dia tak bisa menjawab saat ditanya hendak pulang kemana.

Kau bayangkan, ada seorang ibu yang masih merasai perih sehabis melahirkan, berjalan menyusuri hampir separuh Jakarta hingga kelelahan dan berhenti untuk rebah di mana saja.

River, di pekerjaanku ini aku sudah sering melihat ayah-ayah yang nyaris tak berdaya melawan nasib buruk. Tapi sejak kamu lahir, Nak, setiap kali melihat kejadian semacam itu, satu-satunya hal yang ingin aku lakukan adalah segera pulang ke rumah –iya, rumah kontrakan kita itu– dan memeluk kalian berdua. Kamu dan ibumu. Itulah rasa aman sederhana yang bisa aku sediakan.

Fauzan Mukrim

Fauzan Mukrim

Pekerja TV swasta. Tinggal di pinggiran Jakarta bersama istrinya, Desanti, dan dua anaknya, River dan Rain.
Fauzan Mukrim

Latest posts by Fauzan Mukrim (see all)

http://riverpost.id/wp-content/uploads/2011/10/KPR-sobaliblog.jpghttp://riverpost.id/wp-content/uploads/2011/10/KPR-sobaliblog-150x150.jpgFauzan MukrimRiver's Note,KPR,Rumah,River, sungguh aku berbohong kalau bilang tidak dumba-dumba gleter (KBBI: kira-kira semacam deg-degan yang bercampur rasa senang, takut, dan mau pipis) sekarang. Ini gejolak hati yang akan kau rasakan bila suatu hari nanti berurusan dengan KPR. Iya, Nak. Kita sedang menanti keputusan dari bank apakah akan menyetujui atau menolak...B e r b a g i -- H a n y a -- y a n g -- B a i k