Jangan Hujan Malam Ini

Jadi begitulah, Nak. Tadinya aku berharap hujan turun malam ini. Hingga tadi, sebelum aku bertemu tukang kerak telor di depan Rumah Sakit JMC itu. Babe Rahmat yang tanpa henti mengipasi tungku dan berkali-kali meminta maaf karena telah membuat kami menunggu, telah mengajari kami satu lagi sudut pandang kebahagiaan.

Dia guru kami malam ini. Dan sungguh sangat tak berterima kasihlah kami jika mengharapkan hujan turun. Babe Rahmat masih akan di sana hingga tengah malam. Tanpa atap.

Adapun kami yang berharap turun hujan, seringkali hanya menginginkan romansa dan sedikit melankoli.

Ini dari Om Didit, Nak

Tulisan ini dibuat oleh Eddi Kurnianto a.k.a mas Didit, di-copy-kan padaku saat kami duduk sebaris di kelas sebuah workshop penulisan. Catatan ini mungkin ditulisnya pada…

img:freeimages.com

Panrita

Ini mungkin kisah paling pendek yang aku ceritakan padamu, Nak. Suatu hari, kami, segerombolan anak-anak kecil bandel, berlarian di dalam mesjid dengan kaki penuh lumpur.…

Doa Teknis di Tahun Baru

Berilah kesempatan kepada tanganku ini ya Allah, tanganku yang sudah mulai sering kesemutan ini. Aku ingin membuatkan River sebuah rumah pohon, di halaman depan rumah kami, lengkap dengan taman bacaan untuk anak-anak tetangga. Teman-temannya River kelak.

Tertawa Seperti Pocoyo

Berharap hidupmu seceria Pocoyo, bersahabat dengan Elly, Pato, Loula dan Sleepy Bird. Belajar tertawa. Hanya sibuk bermain sepanjang hari, hingga kelak kamu dewasa dan belajar berdamai dengan kenyataan. Just like Pocoyo, Son. Learning Through Laughter. Belajar menertawai kenyataan.

Selai Mutiara

Mungkin kamu bertanya, mengapa harus Pearl Jam? Ada jutaan band bertebaran di kolong langit ini, mulai dari yang menye’-menye’ seperti ST 12 hingga yang naudzubillah garang seperti Cradle of Filth. Kenapa harus Pearl jam?

gadis di jendela

Anak Itu Seperti Rumah

Dan mungkin benar kata dokter Sri. Anak itu seperti rumah. Seyogyanya kau membangunnya hanya dengan material yang terbaik saja. Tapi ingin kulengkapi ajaran dokter Sri itu. Rumah tak hanya melulu soal material.

Sini kubuktikan. Bertahun-tahun aku dan saudara-saudaraku hidup di atas rumah panggung kayu, hingga kami besar dan meninggalkan rumah, meninggalkan tanah kelahiran. Rumah itu masih berdiri kokoh, padahal dia hanya terbuat dari papan dan sedikit batu bata. Beberapa tahun lalu, dia bahkan selamat dari serangan angin puting beliung di saat beberapa rumah tetangga kami beterbangan atap-atapnya. Tentu ada hal yang membuatnya bisa tetap berdiri, sekalipun tanpa material terbaik.

Mengetes Tuhan

Hanya berselang beberapa jam, Allah membalasnya dengan sebuah nikmat yang tak terkira. Materi dan immateri. Demi Allah. Tapi tak akan aku ceritakan kepadamu aku dapat apa. Aku tak ingin kamu nanti juga akan berpikir sepertiku, mencoba mengetes kekuasaan dan kemurahan-Nya.

Sungai Muhammad

Lalu tiba-tiba aku sadar ternyata tidak begitu mengenal dia. Justru di hari-hari terakhir hidupnya itu, baru muncul keinginan untuk tahu semua tentangnya. Banyak yang aku lewatkan, rupanya. Aku tak tahu dia pernah kemana saja, bagaimana dia bertemu dengan ibu saya, dan kenapa dia begitu ngotot melindungi seorang sahabatnya yang khianat dan membuat kehidupan kami nyaris porak poranda secara ekonomi.

Teman

Aku melihat sang calon presiden itu merangkul si lelaki tua. Teman masa kecilnya, di Sekolah Rakyat. Orang yang sering menggendongnya ketika bermain, katanya. Saling bertanya…